Alat pengasap ikan tanpa asap

Alat pengasap ikan tanpa asap

ilustrasi – Pekerja secara tradisional mengasapi ikan jenis cakalang di sebuah industri ikan asap rumahan di Jakarta, Jumat (16/1/2015). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Terbayang bagaimana pengasapan ikan? Asap pekat memenuhi ruangan sehingga mata menjadi perih dan debu yang bertebaran di mana-mana.

Alat pengasap ikan ramah lingkungan bernama Gibara sekilas berbentuk seperti lemari pendingin.

Sang kreator, Stedi Yoga Santosa, menjelaskan bahwa alat pengasap ikan ini lebih ramah lingkungan karena tidak ada asap tebal yang keluar selama pengasapan serta menghasilkan produk tambahan berupa asap cair serta minyak.

Hasil produk tambahan berupa asap cair dan minyak itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengawet makanan, pengawet kayu, pembasmi hama tanaman, dan bahan penggumpal karet.

“Karena alatnya berbahan stainless steel dan pengasapannya tertutup, hasil ikan asap lebih bersih dan lebih steril dibanding menggunakan metode pengasapan secara tradisional,” katanya.

Kematangan ikan asap lebih merata, pengasapan lebih cepat, penggunaan bahan bakar berupa sabut dan tempurung kelapa lebih efisien, serta mudah dalam pengoperasian dan perawatan.

“Ikan yang akan diasapi disusun pada rak pengasap dengan digantung atau disusun sejajar, kemudian tutup pintu ruang chamber pengasap serta nyalakan kondensator dan api pada bahan bakar di tungku pengasap, sedangkan suhu pengasapan berkisar 50 sampai 70 derajat Celcius,” ujarnya.

Bahan bakar pengasap bisa berupa sabut atau tempurung kelapa, pelepah daun kelapa atau potongan jenis kayu keras.

Menurut dia, pengasapan ikan membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 jam atau disesuaikan dengan kebutuhan tingkat kematangan serta jenis ikan.

“Tambahan produk asap cair dan minyak bisa mencapai setengah liter dalam setiap pengasapan ikan,” katanya.

Asap cair dihasilkan melalui kondensasi pada alat pengasap ikan saat pengasapan berlangsung.

“Asap panas keluar dari kotak pengasap melalui pipa menuju tabung kondenser yang akan dikondensasi atau pengembunan, dan hasilnya berupa asap cair dan minyak ikan selanjutnya ditampung pada tabung yang telah disediakan, sedangkan asap yang tidak terproses akan dialirkan kembali ke dalam kotak pengasap,” ujarnya.

Kalau dikemas menggunakan plastik kedap udara, kata dia, ikan asap produksi alat pengasap ikan akan bertahan hingga 2 atau 3 bulan dan ini dinilai sangat menguntungkan.

Ketua Klaster Bandeng Kota Semarang Petrus Sugiyanto mengaku berminat menggunakan alat pengasap ikan ini dalam industri pengasapan ikan yang dikelolanya.

“Selaku pelaku pengolahan ikan, kami menilai alat pengasap ikan ini tepat guna karena tidak menimbulkan pencemaran lingkungan berupa asap yang mengganggu sekali, biasanya asap masih ke mana-mana dan di Jateng belum ada alat seperti ini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan kelemahan pengolahan ikan asap secara tradisional adalah kurang higienisnya hasil ikan asap karena faktor sarana pengasapan, penggunaan bahan bakar kayu yang besar sehingga boros, kematangan ikan asap tidak merata.

Selain itu, membutuhkan tempat pengasapan yang luas. Dari segi kesehatan, dapat mengganggu kesehatan mata, pernapasan, dan kulit, serta lingkungan di sekitar tempat pengolahan menjadi tercemar asap.

Petrus berpendapat bahwa alat pengasap ikan yang hak patennya telah diajukan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia ini bisa dipakai oleh seluruh pelaku UMKM di bidang pengasapan ikan yang rata-rata memproduksi ikan asap 100 s.d. 150 kilogram per hari.

Apalagi, kata dia, harga alat pengasap ikan cukup terjangkau bagi kalangan pelaku UMKM yang tersebar di Jateng.

Alat pengasap ikan dengan kapasitas produksi 100 kg dijual dengan harga Rp25 juta, sedangkan yang berkapasitas 25 kg hanya dijual Rp12 juta.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah Tegoeh Wynarno Haroeno meminta pemerintah provinsi setempat untuk mengembangkan sekaligus memproduksi massal alat pengasap ikan yang ramah lingkungan.

“Alat pengasap ikan ini merupakan salah satu penemuan fenomenal sebab memiliki banyak keunggulan dibanding alat yang sudah ada sebelumnya,” katanya.

Ia merasa optimistis alat pengasap ikan akan disambut baik oleh para pelaku UMKM di bidang pengasapan ikan dari berbagai daerah.

“Ini sesuai dengan apa yang diinginkan Bapak Gubernur (Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, red.) supaya pemerintah bisa membantu pelaku UMKM, terutama di bidang pengasapan ikan,” ujarnya.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2016

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply

Skip to toolbar