Apple & Ratusan Perusahaan Resmi Gugat Kebijakan Imigrasi Donald Trump

Apple

Apple dan puluhan perusahaan besar lainnya akhirnya resmi mengajukan gugatan hukum bersama ke Pengadilan Banding di San Francisco hari Minggu lalu menentang kebijakan imigrasi yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dilaporkan Boomberg, terhitung ada lebih dari 120 perusahaan termasuk Apple, Google, Facebook, Microsoft, Netflix, Twitter, Uber, dan lainnya yang mengajukan tuntutan supaya pemerintah AS mencabut perintah eksekutif yang melarang masuk imigran dari 7 negara Muslim.

Dalam gugatannya, Apple bersama ratusan perusahaan tersebut menyatakan kebijakan imigrasi baru yang ditetapkan pemerintah AS tidak sejalan dengan komitmen mendasar mereka untuk menerima imigran dari negara manapun. Apalagi, hampir separuh perusahaan dalam daftar Fortune 500 didirikan imigran.

“Immigrants make many of the Nation’s greatest discoveries, and create some of the country’s most innovative and iconic companies. America has long recognized the importance of protecting ourselves against those who would do us harm. But it has done so while maintaining our fundamental commitment to welcoming immigrants—through increased background checks and other controls on people seeking to enter our country.”

Pengajuan gugatan sebelumnya direncanakan bakal dilakukan pada minggu ini. Namun dipercepat mengingat besarnya desakan dan banyaknya pihak yang sudah lebih dulu mengajukan gugatan serupa.



Gugatan hukum Apple dan perusahaan lain ini hadir menyusul mereka sudah menyusun draft surat untuk melawan kebijakan imigrasi sang Presiden AS ke–45, Donald Trump.

Perintah eksekutif yang disahkan Presiden Donald Trump sendiri saat ini sudah ditolak sementara oleh hakim federal. Bahkan pengadilan banding AS dilaporkan menolak memulihkannya kembali. Sehingga para imigran yang sebelumnya tertahan di bandara-bandara bisa bebas.

Penolakan Apple terhadap kebijakan imigrasi Donald Trump tidak lain karena mereka perusahaan yang sangat menjunjungi tinggi perbedaan ras, agama, dan gender. Disahkannya kebijakan itu dinilai malah merugikan banyak pegawainya merupakan warga imigran. Seperti diketahui pendiri Apple, Steve Jobs, juga adalah imigran dari negara yang masuk daftar pelarangan, yaitu Suriah.






About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply

Skip to toolbar