Benarkah Belajar Sains Bikin Susah Jodoh?

Senin, 05 September 2016 | 17:49 WIB

Benarkah Belajar Sains Bikin Susah Jodoh?  

Ilustrasi sains. shutterstock.com

TEMPO.CO, Buffalo – Sebuah penelitian mengungkap bahwa perempuan menganggap sains, teknologi, dan matematika dapat mengganggu “misinya” dalam mencari cinta yang romantis. Bidang ilmu maskulin seperti itu dianggap tidak feminin, dan secara tidak sadar para perempuan menjauhkan diri dari aktivitas belajar dan mengambil mata pelajaran itu ketika harus tampil feminin.

“Ini amat bergantung pada pengaruh lingkungan tempat para gadis itu tumbuh,” kata Lora Park, peneliti studi dari University of Buffalo, Amerika Serikat. “Mereka menerima pesan bahwa menarik dan seksi itu amat penting. Kami menemukan, meski paparan terhadap petunjuk ini amat halus, hal itu dapat mempengaruhi keputusan mereka dalam memilih jurusan atau mempelajari bidang ilmu tersebut.”

Para peneliti menemukan hal itu dalam empat eksperimen terpisah, yang melibatkan partisipan lelaki dan perempuan berusia sekitar 19 tahun. Untuk menyiapkan para partisipan dalam kondisi “mencari cinta” atau “belajar”, para peneliti meminta mereka memberi peringkat seberapa banyak mereka menyukai gambar-gambar terkait dengan percintaan atau kecerdasan, seperti foto matahari terbenam di pantai atau perpustakaan. Mereka juga diminta mengisi kuesioner tentang minat mereka dalam bidang sains, teknologi, dan matematika.

Setelah mengalami kondisi romantis, minat para gadis terhadap bidang ilmu tersebut menurun lebih dari 25 persen. Sebaliknya, pria tidak menunjukkan adanya perbedaan dalam minat terhadap sains dan teknologi.

Ketika perempuan mencoba tampil lebih menawan, mereka terlibat dalam kegiatan yang lebih romantis dan lebih sedikit aktivitas yang berurusan dengan matematika. Namun hal ini tidak berlaku bila perempuan itu telah memiliki hubungan tetap atau melajang.

“Ketika wanita terekspos dengan petunjuk romantis, baik gambar dalam studi pertama maupun percakapan romantis dalam eksperimen berikutnya, mereka memperlihatkan minat yang jauh lebih sedikit dalam bidang terkait dengan sains, teknologi, dan matematika serta lebih berminat dalam bidang lain, seperti seni dan kemanusiaan,” ujar Park. “Mereka juga memperlihatkan kurangnya minat dalam kelas matematika, malas mengerjakan pekerjaan rumah matematikanya, dan malas dalam kegiatan matematika lain.”

Fokus budaya terhadap nilai-nilai keperempuanan dan keinginan untuk diidamkan mungkin membuat para gadis menjauhi bidang-bidang yang sebenarnya setara dengan pria.

LIVE SCIENCE | AMRI MAHBUB

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply