Bermain Gadget Sebelum Tidur, Ini Imbasnya | Tempo Teknologi

Jum’at, 18 September 2015 | 14:13 WIB


Bermain Gadget Sebelum Tidur, Ini Imbasnya

Seorang anak kecil perempuan tertidur di atas roti, ketika sedang menikmati makanan di atas meja makan. Anak tersebut tampaknya menggunakan roti sebagai pengganti bantal tidur. Dailymail

TEMPO.CO, Brigham – Riset yang dilakukan Brigham and Women’s Hospital menjadi peringatan bagi pembaca buku elektronik dari perangkat gadget  mereka yang memancarkan cahaya biru alias LED. “Ritme tidur terganggu karena gelombang cahaya pendek (cahaya biru) dari perangkat elektronik,” kata Ane-Marie Chang, ahli neurosains di Sleep and Circadian Disorder Division, seperti dikutip dari Science Daily.

Chang mengatakan, terjadi pengurangan sekresi melatonin saat seseorang membaca e-book sebelum tidur. Melatonin adalah hormon di dalam tubuh yang bertugas untuk mengistirahatkan tubuh kita secara otomatis. Saat tubuh lelah, hormon inilah yang membuat kita mengantuk.

Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Proseeding National Academy of Sciences. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa cahaya biru menekan melatonin pada tubuh, yang menyebabkan tubuh selalu merasa kekurangan tidur.

Studi ini dilakukan terhadap 12 orang yang menginap selama dua minggu. Mereka membaca e-book dari iPad selama empat jam sebelum tidur. Mereka melakukan hal tersebut selama lima malam berturut-turut. Hari lainnya, mereka membaca buku cetak.

Saat membaca, para peneliti memindai rapid eyes movement, gerak mata saat tidur, dari para peserta. Hasilnya, membaca dengan iPad mengurangi sekresi melatonin, hormon yang berperan mendorong kantuk. Selain itu, iPad menunda ritme tidur. “Karena itu, orang kurang mengantuk dan akan tetap terjaga selama beberapa waktu,” ujar Chang. Tak hanya iPad, dia menambahkan, laptop, ponsel, monitor LED, dan perangkat elektronik yang memancarkan cahaya biru.

Charles Czeisler, Kepala Divisi Sleep and Circadian Disorder BWH, mengatakan setidaknya penurunan kualitas tidur ini sudah terjadi sejak 50 tahun lalu. “Khususnya anak-anak dan remaja.” Para peneliti menekankan betapa pentingnya temuan ini karena banyak studi berkaitan dengan hal ini, antara lain risiko sekresi serta peningkatan risiko kanker payudara dan prostat.

SCIENCEDAILY | AMRI MAHBUB

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply