Canggih, Rusia Isi Ulang Tenaga Satelit Hanya Pakai Laser | Tempo Teknologi

Selasa, 19 Januari 2016 | 19:47 WIB


Canggih, Rusia Isi Ulang Tenaga Satelit Hanya Pakai Laser

Sebuah pemandangan langit ketika malam hari, jejak cahaya menunjukan jalur satelit ISS. Garis cahaya yang melintang menunjukan jalur orbit dari satelit ISS, sedangkan garis vertikal menunjukan lintasan satelit lain. ISS adalah proyek luar angkasa yang digagas oleh Uni Eropa, dan objek angkasa ini berputar mengelilingi dunia. Dailymail

TEMPO.CO, Moskow – Sebagai senjata, sinar laser sangat tidak efektif digunakan. Sebab, benda ini akan kalah hanya dengan sebongkah cermin. Bagaimana jika sinar laser dimanfaatkan sebagai pengisi daya pesawat nirawak (unmaned aerial vehicle), bahkan  satelit ruang angkasa? Memang terdengar gila, tapi para ilmuwan Rusia dapat menjawab pertanyaan yang agak ganjil ini.

“Dengan teknologi kami, UAV dapat berfungsi tanpa perlu diisi ulang,” kata salah satu pencetus proyek, Ivan Matsak, insinyur asal Rusia, seperti dikutip dari Russia Beyond the Headlines yang diakses hari ini, Selasa, 19 Januari 2016.

Pada dekade 1980-an, Matsak mengatakan, transfer energi dengan menggunakan laser dianggap tak masuk akal. Alasannya, efisiensi laser hanya mencapai beberapa persen dan belum termasuk kehilangan informasi saat pengiriman energi dilakukan. Kondisi tersebut berubah ketika memasuki era 2000. Sinar laser inframerah diekmbangkan hingga efisiensi 50 persen.

Hal tersebut memotiviasi Matsak dan tim untuk melihat laser dengan cara yang lebih serius. Menurut dia, peran infamerah tak bisa dilepaskan. Nantinya, ini akan dikombinasikan dengan sistem yang memiliki fokus dan target, sebuah pendeteksi foto di luar pesawat, dan baterai cadangan untuk berjaga-jaga saat sorotan laser terhapus atau terhalang oleh sesuatu.

Matsak mengatakan, sistem penargetan dan fokus tersebut sudah ada. Yakni, modul fotoelektrik yang dikembangkan oleh tim dari Ioffe Physics and Technology Institute. Sistem ini terbukti bisa menerbangkan pesawat UAV dalam jangka waktu yang tak terbatas hanya dengan kapasitas daya 200 watt.

Kerja Matsak bahkan sudah lebih jauh lagi. “Kami sedang mempersiapkan sistem untuk mentrasfer energi listrik ke ruang angkasa,” ujar Matsak. Menurut dia, teknologi ini akan lebih efektif karena di ruang angkasa tak ada materi yang bisa menyerap radiasi.

Saat ini, hampir semua perangkat antariksa mendapatkan energi dari tenaga matahari. Masalah yang kemudian muncul akibat tenaga solar adalah ukuran dan konstruksi yang kompleks. Matsak mengatakan, sistem laser dapat memotong kerumitan tersebut.

Matsak dan rekannya telah mengembangkan rencana eksperimen antariksa yang disebut Pelican. Proyek ini akan dilaksanakan pada 2017.

Dengan Pelican, Matsan dan tim akan mencoba transfer energi ke Stasiun Ruang Ankgkasa Tradisional bagian Rusia, Saat ini, mereka sedang mempersiapkan eksperimen darat, yaitu mentransfer energi pada jarak sekitar satu meter untuk melihat kinar Pelican.

RBTH | AMRI MAHBUB

About The Author

Profile photo of Tempo

www.tempo.co adalah portal berita online dan offline yang terkenal dengan beritanya yang 'berani' dan menyediakan beragam macam berita dari politik, IT sampai kesehatan dengan investigasi yang terkenal 'tajam'.

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply

Skip to toolbar