Catat, Ini Tips Memotret Gerhana Matahari Total dan Parsial | Tempo Teknologi

Senin, 25 Januari 2016 | 04:54 WIB


Catat, Ini Tips Memotret Gerhana Matahari Total dan Parsial

Proses gerhana bulan total dilihat dari Indramayu, Jawa Barat, 4 April 2015. Gerhana bulan terjadi saat bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama. ANTARA/Dedhez Anggara

TEMPO.CO, Bandung – Peristiwa gerhana matahari total dan parsial (sebagian) pada 9 Maret 2016 di langit wilayah Indonesia penting diabadikan dengan kamera. Foto dapat diarahkan penuh ke peristiwa gerhana di langit, atau sambil menyertakan suasana lingkungan sekitar. Pengambilan gambar pun selain di daratan, bisa dari perahu atau kapal di laut, gunung, dan pesawat.

Seorang astrophotographer, atau pemotret astronomi, Ronny Syamara, 27 tahun mengatakan, langkah pertama perencanaan dalam merekam momen-momen menarik itu yakni menentukan lokasi pemotretan. “Banyak sekali daerah yang akan dilintasi gerhana matahari total, di pantai, gunung, pedesaan, bisa jadi lokasi pilihan,” kata Ronny kepada Tempo.

Pemilihan lokasi memotret juga berhubungan dengan perencanaan gambar yang ingin diambil, seperti close-up gerhana matahari, semi close-up, atau foto landscape yang menyertakan suasana dan lingkungan sekitar. Waktu terjadinya gerhana dan prediksi cuaca juga perlu diperhitungkan.

Di wilayah Indonesia bagian barat, misalnya, proses gerhana matahari total dimulai selewat pukul 7 pagi, dan gerhana parsial selewat pukul 6 pagi. Wilayah tengah dan timur ditambah satu dan dua jam. “Bisa jadi pagi itu mendung dan hujan atau sebaliknya, perhitungannya harus cermat,” kata staf ahli pertunjukan di Planetarium Jakarta itu.

Ketika lokasi dan cuaca mendukung, sebelum memotret setelan kamera single-lens reflex (SLR) jenis digital maupun analog, harus diposisikan dulu ke mode manual. Alasannya, kata Ronny, pemotret harus mengubah-ubah shutter speed kamera. Saat proses gerhana matahari total ketika cahaya mulai berkurang, setelan kecepatan itu berkisar 1/250-1/400.

“Ketika gerhana total percepatan sekitar 1/8 atau 2-4 detik,” kata Ronny. Adapun pada gerhana matahari parsial, setelan shutter speed berkisar 1/500 sampai 1/1000. Ukuran ASA kamera ketika gerhana, rata-rata rendah berkisar 100-400, tergantung kondisi terik atau mendung di langit. Bukaan lensa kamera umumnya f8 dari kisaran 7-11 untuk kualitas gambar yang cukup tajam.

“Untuk gambar gerhana close-up memakai lensa tele ukuran lebih dari 400, hingga 1.000 milimeter bisa dapat korona matahari,” kata Ronny, fotografer yang pernah memotret gerhana parsial dan transit planet Venus pada 2012 itu. Korona merupakan lapisan luar matahari yang dapat dilihat ketika gerhana.

ANWAR SISWADI

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply