Dinosaurus di Jurassic World Tuai Kritikan

http://us.images.detik.com/content/2015/06/16/398/150834_jura.jpgJurassic World (universal)
Jakarta – Bagi masyarakat awam, penampilan para dinosaurus di film Jurassic World tampak begitu mengagumkan. Tapi tak semua terkesan dengan hasil karya sineas Hollywood ini, khususnya para ilmuwan.

Dinosaurus di Jurassic World semacam Velociraptor dan Tyranosaurus Rex sebagian besar direkayasa dengan bantuan komputer. Namun beberapa ilmuwan yang meneliti dinosaurus menyatakan kekecewaannya terhadap wujud hewan purba itu yang dinilai kurang akurat.

Contohnya James Kirkland, paleontologis dari Utah Geological Survei. Ia mengakui Jurassic World membuat popularitas dinosaurus melesat, tapi yang ia sayangkan adalah banyak wujud dinosaurus yang tidak sesuai dengan temuan di ilmu sains.

“Saya harus menjelaskan ketidakakuratan itu lagi dan lagi,” katanya seperti dikutip detikINET dari CBSNews, Selasa (16/6/2015).

“Saya yakin filmnya memang berjalan bagus dan mampu menghibur. Tapi saya berharap lebih dari film ini,” tambah dia. Kirkland menilai Jurassic World abai pada sifat-sifat dasar dan wujud dinosaurus yang jadi bintangnya.

Misalnya, dinosaurus jenis Velociraptor yang jadi bintang di Jurassic World seharusnya punya bulu. Tapi digambarkan kulitnya sepenuhnya licin. Dinosaurus terbang jenis Ptesoaurus seharusnya tidak bisa terbang sambil mengangkat orang, tapi di film digambarkan demikian.

“Plot ceritanya mungkin oke. Tapi penampilan dinosaurusnya sendiri buruk. Sebuah bentuk kemunduran dalam hal penampilan visual dan akurasi,” kata Andrew Farke dari Raymond Alf Museum of Paleontology.


(fyk/ash)

Andrew juga menyayangkan sedikitnya jenis dinosaurus yang dimunculkan di Jurassic World. Penampilan Velociraptor menurutnya juga kurang sangar.

“Seharusnya Velociraptor bisa dibuat lebih mengintimidasi,” katanya. Akan tetapi meski banyak kritik, ada juga ilmuwan yang membela Jurassic World.

Ahli biologi Jack Horner menilai kritikan pada Jurassic World itu salah tempat. “Itu hanyalah film fiksi. Sehingga memang tidak perlu terlalu berbasis pada ilmu pengetahuan,” kata Jack.

“Para pembuatnya tentu ingin dinosaurusnya tampil seakurat mungkin. Tapi para dinosaurus itu menjadi aktor dan melakukan hal yang tidak normal seperti mengejar-ngejar orang dan memasuki bangunan hanya untuk makan manusia,” paparnya.

“Setiap kali film Jurassic Park baru muncul, kesadaran publik tentang dinosaurus meningkat. Jika hanya sebuah film dokumenter, mungkin akan memuaskan para ilmuwan itu tapi tak banyak orang akan nonton. Dan film dokumenter sendiri tak sepenuhnya akurat,” pungkas Jack.


(fyk/ash)

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply