Internet Tingkatkan Jumlah Remaja Depresi

Shutterstock Media sosial bisa dimanfaatkan untuk beragam aktivitas produktif.

KOMPAS.com – Internet membawa banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun, seperti Yin dan Yang, selalu ada ”sisi hitam” yang mengimbangi ”sisi putih” pemanfaatan internet.

Psikiater dari rumah sakit Priory, Roehampton, Natasha Biljani, mengemukakan risiko yang ditawarkan internet terhadap kesehatan mental generasi muda. Menurutnya, internet membawa fenomena penindasan dan keterbukaan seksual yang berdampak negatif.

Semua itu dimungkinkan olehdua hal, yakni akses informasi yang luas dan komunikasi anonim. Netizen secara bebas menindas seseorang yang tak ia sukai melalui internet dengan identitas disamarkan. Ini yang disebut kejahatan maya.

Netizen juga bisa membagi gambar-gambar ”mesum” dirinya ke teman kelompok atau orang terpercaya. Lalu kemudian foto-foto itu dengan mudah tersebar luas dan lagi-lagi dijadikan objek penindasan massal.

Kemungkinan lain, banyaknya foto-foto ”terbuka” yang bisa diakses di internet memicu para remaja yang masih labil untuk turut menyebar gambar diri mereka.

Saat ini, foto mesra remaja yang tengah dilanda kasmaran dengan sang pacar juga banyak beredar di media sosial. Seakan para remaja berlomba-lomba menjadi pasangan paling ”romantis” di media sosial.

Mereka barangkali tak sadar bahwa tiap file yang dimasukkan ke internet bisa diakses dan disimpan oleh semua orang. Apa yang dibanggakan hari ini mungkin bakal jadi aib di kemudian hari.

Hal ini, menurut Bijlani bisa menyebabkan depresi permanen di masa depan. Untuk itu, generasi muda yang lahir di era internet harus dibina dalam memanfaatkan jaringan tersebut.

“Fokus dibutuhkan untuk mengedukasi generasi muda tentang risiko menyebar gambar diri mereka dan berkomunikasi dengan orang tak dikenal di internet,” kata Biljani, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Rabu (15/5/2015) dari BBC.

Tesis Biljani berangkat dari hasil penelitian di London yang menunjukkan tingkat kecemasan dan depresi di kalangan remaja semakin meningkat seiring dengan meluasnya penetrasi internet.

Menurut data dari Health and Social Care Information Centre (HSCIC), panggilan psikiater darurat berjumlah 17.000-an pada 2014. Angka tersebut naik dua kali lipat dari 2010.

Dilaporkan, hampir 16.000 remaja perempuan (15-19 tahun) melukai dirinya sendiri akibat depresi. Angka ini melonjak drastis dari tahun 2004 yang hanya berjumlah 9.000-an.

Yang teranyar, Office for National Statistics (ONS) membeberkan bahwa satu dari lima remaja (16-24 tahun) memiliki kecenderungan depresi, cemas dan stres.

Mempertegas angka kenaikan depresi pada remaja yang signifikan, rumah sakit Priory menemukan remaja berusia 12 hingga 17 tahun semakin banyak yang mengalami depresi berat.

Tahun 2014, hampir 300 anak di London pada rentang usia tersebut divonis depresi berat. Angka ini naik 100 persen dari tahun 2010. Penyebabnya, kata Biljani, anak-anak tersebut adalah orang-orang pertama yang ”ketagihan” media sosial.

”Apapun alasannya, harus dilakukan kajian yang lebih dalam untuk menuntaskan masalah mental ini. Jika masalah ini diabaikan, generasi penerus bakal jadi generasi yang suram,” kata Biljani.



About The Author

Profile photo of kompas

Kompas.com adalah portal berita yang memiliki media online maupun offline tertua dan ternama di indonesia. Media offline kompas adalah yang terbesar di Indonesia.

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply

Skip to toolbar