Lulusan Telekomunikasi Harus Bekali Diri dengan Sertifikasi

Jakarta – Di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), tantangan dan persaingan kerja di industri telekomunikasi dinilai akan semakin sengit. Para mahasiswa dari jurusan ini pun diharap harus mempersiapkan diri sebelum terjun ke dunia kerja.

Seperti diterangkan Project Director PT GMI M. Ainur Rofiq, diperkirakan di tahun 2035 akan tersedia 22 juta lapangan pekerjaan di bidang telekomunikasi. Para engineer wajib mengembangkan diri, di antaranya dengan sertifikasi atau semacam pelatihan untuk bisa bertahan di industri telekomunikasi dalam negeri.

“Untuk dapat bekerja di bidang telekomunikasi harus mempunyai kemampuan dasar di bidang telekomunikasi yang harus dipersiapkan sejak di bangku perkuliahan. Selain pendidikan formal, diperlukan kesiapan lain seperti sertifikat keahlian di luar pendidikan formal, hingga mengikuti pameran-pameran teknologi agar update terhadap perkembangan informasi,” ucap Ainur di Jakarta, Selasa (13/11/2017).

Karena jika tidak demikian, nantinya lulusan dalam negeri akan kalah bersaing dengan tenaga kerja dari asing, apalagi di era MEA seperti saat ini. “Nanti pesaing kita bukan hanya dari universitas dalam negeri, tapi lulusan dan pekerja luar, seperti China, Malaysia, Philipina, dan lainnya,” tambah Ainur.

Foto: istimewa

Ainur pun menambahkan apabila era MEA ini bisa menjadi ancaman dan peluang bagi lulusan dalam negeri. Namun, Ainur menyebut apabila semua itu kembali lagi pada kesiapan. Jika siap akan jadi peluang, bila tidak akan menjadi ancaman.

Terkait menurunnya peminatan mahasiswa terhadap jurusan telekomunikasi di fakultas teknik elektro, Ainur mengatakan bahwa para mahasiswa itu yang belum ada gambaran mau kerja apa. “Padahal kalau kita sudah merasakan akan sangat menyenangkan dan gaji tinggi,” tandasnya.

Sebagai gambaran, Ainur memberikan data gaji dan level pengalaman di industri telekomunikasi. Di tahun pertama sampai tiga tahun, gaji yang diterima berkisar Rp 2 sampai Rp 7 juta. Sementara untuk di atas 10 tahun, pekerja bisa menerima di atas Rp 40 juta.

Foto: istimewa

Sebagai bentuk dukungan terhadap tenaga kerja dari dalam, GMI bekerjasama dengan Telkomsel dan Universitas Mercu Buana menggelar seminar bertajuk 4G-5G: Impact on Mobile Operator and Subscribers, Tools, and Telecom Engineer di Universitas Mercu Buana beberapa waktu lalu.

“Dengan adanya seminar ini, peserta yang notabene mahasiswa dapat mengetahui perkembangan dunia telekomunikasi yang berkembang dengan sangat cepat, serta pengaruhnya terhadap berbagai bidang kehidupan. Selain itu diharapkan peserta dapat membekali diri untuk dapat masuk dan survive sebagai seorang engineer telekomunikasi diera telekomunikasi saat ini dan yang akan datang,” pungkasnya.

Bersamaan dengan seminar ini, berlangsung pula penandatanganan nota kesepahaman antara PT GMI dengan Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana. PT GMI yang diwakilkan oleh Direktur Utama Jefri Sungkar mengatakan bahwa penandatangan ini merupakan bagian dari kontribusi PT GMI terhadap perkembangan dunia pendidikan. (mag/mag)

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply