Menkominfo Nilai Tarif Panggilan Telepon Saat Ini Tak Sehat

Kamis, 25 Agustus 2016 | 13:12 WIB


Menkominfo Nilai Tarif Panggilan Telepon Saat Ini Tak Sehat

Menteri Kominfo Rudiantara, memberikan keterangan kepada awak media, di kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, 15 Maret 2016. Peninjauan ini terkait protes industri transportasi konvensional. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.COJakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan perbedaan tarif percakapan telepon antara sesama jaringan operator (on-net) dan lintas operator (off-net) perlu diatur guna menyehatkan industri sekaligus memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Menurut dia di DPR, Jakarta, Rabu malam, saat ini harga percakapan telepon sangat timpang antara panggilan telpon ke sesama operator dan panggilan telepon lintas operator. “Ada yang menggratiskan ke sesama operator, tapi keluar, lain operator biayanya Rp 2.000 per menit. Jadi ini tidak sehat, rasionya bisa ribuan kali,” katanya.

Akibatnya, menurut dia, industri tidak efisien karena hanya mendorong untuk berkutat pada percakapan sesama operator. Hal ini mempengaruhi perilaku masyarakat yang tidak efisien dengan memiliki lebih dari satu SIM card dan satu telepon seluler. “Jadi masyarakat kalau mau telepon Simpati pakai kartu Simpati, kalau XL pakai XL, Indosat pakai Indosat, ini tidak sehat,” ujarnya.

Ia mengatakan saat ini 350 juta SIM card beredar di masyarakat, sementara pelanggan riil hanya 160-170 juta. Artinya, setiap pelanggan diperkirakan memiliki dua SIM card lebih. Begitu pula jumlah telepon seluler yang lebih dari satu.

Hal ini, menurut dia, tidak efisien karena biaya pemeliharaan yang begitu besar pada SIM card. Padahal, bila SIM card hanya satu untuk setiap pelanggan, akan banyak penghematan. Selain itu, perilaku masyarakat yang didorong untuk memiliki lebih dari satu telepon seluler guna menghemat biaya percakapan. “Ini kan tidak mendidik,” tuturnya.

Hal tersebut juga merugikan bagi perekonomian nasional karena meningkatkan impor. “Besarnya impor sektor telekomunikasi yang mencapai sekitar 50-60 juta handset menyumbang defisit perdagangan US$ 5 miliar,” ucapnya.

Menurut Rudiantara, bila bisa dipangkas 100 juta SIM card, akan terjadi penghematan. Belum lagi juga akan mengurangi nilai impor sektor telekomunikasi sehingga defisit perdagangan juga dapat dipangkas dan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Untuk itulah, menurut dia, guna mendorong industri yang lebih sehat, maka selisih harga percakapan telepon lintas operator dengan ke sesama jaringan operator dipangkas. Dengan demikian, masyarakat cukup memiliki satu SIM card dan satu telepon seluler.

ANTARA

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply