Pemimpin Kota Cerdas dan ASEAN Smart City Network

Jakarta – Inisasi pembangunan Kota Cerdas telah meluas di berbagai belahan dunia. Tidak ketinggalan perkumpulan negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) juga telah mulai membahas dengan usulan Singapura terkait pembentukan ASEAN Smart City Network (ASCN).

Bahkan dalam pertemuan pimpinan ASEAN akhir bulan April lalu Presiden Jokowi juga menyambut baik dengan inisiasi tersebut dengan berharap agar pembangunan Kota Cerdas mengedepankan kepentingan masyarakat.

Tentu menjadi menarik ketika Singapura suatu negara yang juga hanya sebuah kota dengan penduduk sekitar 6 juta menginisiasi suatu pembangunan Kota Cerdas di antara ratusan (ribuan) kota dan kabupaten di ASEAN yang bervariasi mulai dengan kota maju hingga kabupaten yang masih berjuang untuk keberlanjutan maupun survive.

Di suatu dokumen yang diusulkan Singapura, ada suatu saran menarik yaitu Chief Smart City Officer sebagai pemimpin atau koordinator Kota Cerdas. Seperti pimpinan dalam organisasi lain seperti CEO, CXO, CIO hingga CFO, adalah suatu karier atau profesi yang diidamkan para profesional, sebagai puncak karier dalam suatu bidang tertentu.

Biasanya level kepemimpinan ini adalah suatu level strategis yang menentukan arah hingga program program terkait menjadi tercapai sesuai dengan visi dan misi organisasi.

Chief Smart City Officer (CSCO), walau secara tegas belum didapatkan dalam suatu definisi tetapi mengikuti dengan kepemimpinan lain, diharapkan seorang yang bisa memimpin perubahan pembangunan atau pengelolaan kota menjadi lebih cerdas.

Tetapi sebelum membahas lebih lanjut terkait peran dan tugas dari suatu CSCO, perlu dipahami dulu tentang Kota Cerdas dan ukurannya, sehingga bisa lebih efektif.

Kota Cerdas

Banyak definisi terkait dengan kota cerdas yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga maupun industri. Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas, perkumpulan penggiat Kota Cerdas di Indonesia telah mengeluarkan definisi yaitu suatu Kota yang bisa mengelola berbagai sumber daya kota secara inovatif dan terintegrasi sehingga warganya bisa hidup aman, nyaman, sejahtera dan bahagia yang berkelanjutan. Peningkatan kualitas hidup masyarakat menjadi tujuan dari pengelolaan kota.

Makna inovatif adalah bagaimana kota bisa mencari solusi tepat guna sesuai dengan persoalan yang dihadapi. Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi memang diperlukan, tetapi tidak cukup, karena kapasitas pengelola, warga hingga sarana dan prasarana lain diperlukan agar orkestra pengelolaan kota bisa terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik.

Perjalanan (Journey) pembangunan Kota cerdas bisa dibagi dalam 3 atau 4 generasi. Saya coba untuk pilah menjadi 4 generasi sebagai berikut. Kota Cerdas Generasi 1 adalah kota yang seperti biasanya membangun kota (as usual). Kota cerdas Generasi ke 2, adalah kota yang memandang Teknologi sebagai arus utama dalam pembangunan kota cerdas.

Banyak orang atau pimpinan kota yang masih melihat Kota Cerdas adalah Kota ditambah aplikasi berbasis Teknologi termasuk adanya “Command Center” . Namun demikian masih belum terasa adanya perubahan yang berarti dalam perubahan kota yang diidamkan.

Kota Cerdas generasi ke 3 adalah Kota yang dikelola dengan teknologi sebagai bagian dari pemungkin (enabler) dan pemerintah kota telah mencoba untuk memulai inisiatif pembangunan kota cerdas. Dalam level ini masih beranggapan bahwa pembangun Kota cerdas itu hanyalah di lakukan Pemerintah Kota saja.

Kota Cerdas generasi ke 4 (City 4.0) , telah melibatkan warga dan komunitas lain dengan cara kolaborasi (Co Creation) ataupun gotong royong dalam membangun kota. Ini menjadi tantangan baru karena melibatkan sektor swasta dan masyarakat umum, bagaiman model kemitraan, bisnis dan tatakelolanya.

Di Indonesia kondisi Kota dan Kabupaten cukup bervariasi baik kondisi sumber daya alam, manusia hingga perilaku budayanya. Peluang dan tantangan masing masing kota berbeda, perlu dikelola dan dibangun seiring dengan kondisi yang ada.

Framework Kota Cerdas

Banyak pengelola kota menanyakan bagaimana membangun kota cerdas, dimulai darimana? Teknologi, Infrastruktur atau Manusianya. Membangun Command Center, membuat aplikasi atau bagaimana? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu diperlukan suatu kerangka kerja, bagaimana mendekati, memulai dan melakukan prioritas pembangunan kota cerdas.

Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas telah mengeluarkan suatu kerangka Kerja membangun Kota cerdas dengan memulai suatu model Kota Cerdas, dibagi dalam 3 layer yaitu, sumber daya, pemungkin (enabler) hingga domain dengan tujuan utama adalah peningkatan kualitas hidup warga kota.

Domain pembangunan kota cerdas dibagi dalam 3 domain sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goal) yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Masing masing domain dibagi lagi menjadi beragam layanan seperti smart health, smart energy, smart mobility hingga smart people. Masing masing kota mungkin berbeda penekanannya sesuai dengan peluang dan tantangannya.

Pemungkin atau Enabler adalah faktor utama dalam pencapaian layanan cerdas di domain atau sektor. Kerangka kerja ini mengusulkan 3 faktor utama pemungkin yaitu Insan Cerdas, Tatakelola Cerdas serta prasara dasar dan teknologi informasi.

Sumber daya adalah modal dari suatu kota, baik itu sumber daya alam, sumber daya manusia, waktu hingga sumber daya tak terwujud peninggalan nenek moyangnya.

Perlu diperhatikan bahwa kebutuhan dasar kota harus terpenuhi dulu sebelum kebutuhan lain terpenuhi, seperti keperluan pangan, sanitasi, air, energi hingga transportasi. Banyak kota ingin melompat kepada suatu kondisi kekinian tetapi tidak memperhatikan kebutuhan dasar.

Chief Smart City Officer (CSCO)

Kembali kepada konsep pimpinan pengelola kota cerdas, apa, mengapa dan siapa CSCO? Jika kita memahami definisi dan kerangka kerja di atas, kerumitan atau kompleksitas pengelolaan kota sangat tinggi, mulai dari pemahaman kualitas kehidupan masyarakat, birokrasi, inovasi, teknologi hingga sarana dan prasarana kota.

CSCO dapat diartikan sebagai pimpinan strategis pengelola kota yang mampu melakukan inovasi, integrasi, investasi hingga interaksi dalam pengelolaan kota secara cerdas. Pimpinan tersebut harus mampu memahami kondisi nyata dan dinamika kota, mencari solusi melalui inovasi dan mengintegrasikan semua komponen kota untuk berkolaborasi memberikan peningkatan kualitas hidup kota.

Selanjutnya mampu juga mencari solusi pembiyaan baik dari anggaran internal kota hingga kerjasama pemerintah dan swasta. Ada jiwa birokrat, inovator hingga entrepreneur.

Sementara itu di kelembagaan kota sudah ada Badan, Dinas dan perangkat kota lain yang selama ini mengelola kota jaman “Old”. Jaman “Now” memerlukan berbagai pendekatan untuk solusi di atas. Semua akan bermuara di pemimpin Kota, Walikota dan Bupati, tetapi bagaimana Kantor Pimpinan Kota Cerdas bisa menjadi Orkestra. Apakah didelegasikan kepada satu unit yang ada tetapi mempunyai fungsi semuanya?

ASEAN Smart City Network (ACSN)

Perkumpulan negara ASEAN telah merencanakan suatu jejaring antar kota di ASEAN dengan masing masing Negara mengirim 3 kota pada awalnya. Setiap negara mengirim satu Kota Ibu Kota Negara dan 2 kota lainnya. Singapura dan Brunei mungkin hanya kirim satu karena Negara adalah Kota. Sementara Singapura menjadi negara inisiator tentu bisa mengusulkan berbagai kegiatan untuk suatu tujuan tertentu.

Termasuk mitra eksternal seperti pembiayaan, teknologi dan Industri mitra. Negara lain yang notabene persoalannya lebih lebar perlu waspada terhadap keberagaman dan strategi nasionalnya, karena menyangkut kemajuan Industri dalam negerinya dan peran tenaga kerja maupun tantangan keberagaman lainnya.

Sementara beberapa inisiatif telah dilakukan oleh Kota, Universitas, Pemerintah Pusat, Industri dan komunitas lainya. Adalah suatu kesempatan yang baik jika Kolaborasi dan Strategi Nasional dibuat lebih kompak dengan framework yang cukup fundamental sebagai bagian pembangunan kota dan negara yang lebih utuh.

* Penulis adalah Guru Besar ITB dan Ketua Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas (Smart City). (fyk/rou)


About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply