Samsung Terluka, Tapi Tidak Parah

Samsung Terluka, Tapi Tidak ParahFoto: Mindra Purnomo
Jakarta – Kondisi yang tengah dihadapi Samsung bisa diibaratkan seperti seorang petarung. Dimana ketika sudah sangat siap terjun ke medan laga, entah kenapa ia malah terluka.

Selanjutnya sudah bisa ditebak, sang petarung harus mengurungkan — atau setidaknya menunda — niatan untuk menggegerkan dunia persilatan.

Samsung — selaku sang petarung — pantas kecewa. Sederet usaha, jerih payah bercampur dana raksasa sejatinya telah mereka curahkan untuk kesuksesan amunisi anyarnya, Galaxy Note 7.

Namun apa daya, garis tangan kali ini ternyata mengantarkan Samsung harus melalui jalan terjal penuh liku untuk menggapai kesuksesan dari produk jagoannya.

Peter Yu, analis dari BNP Paribas menyebut Samsung tengah terluka lantaran keputusan recall Galaxy Note 7 lantaran adanya anomali pada baterai yang menyebabkan potensi meledak seperti kata sejumlah laporan.

Tak disebut lebih detail memang luka apa yang dimaksud, apakah itu luka dalam (mental para penggawanya) atau luka luar — dalam hal ini mengacu pada reputasi brand Samsung yang selama ini selalu bertengger di kasta tertinggi jagat ponsel dunia.

Pun demikian, satu hal yang ditekankan Peter adalah, luka tersebut tak lantas membuat Samsung tumbang alias tak parah-parah amat. Namun cukup mengganggu dan menimbulkan pekerjaan rumah berlipat.

“Perusahaan (Samsung-red.) mungkin akan menjual beberapa juta ponsel (Note 7) atau kurang, tetapi itu tidak akan meruntuhkan brand image Samsung akibat keputusan recall secara global. Dan itulah yang paling penting dalam jangka panjang,” lanjut Peter, seperti dilansir The Wall Street Journal.

Hal senada diutarakan Chang Sea Jin, profesor dari National University of Singapore. Ia menyatakan, hal yang paling dikhawatirkan Samsung sejatinya bukanlah berapa nilai kerugian yang dideritanya dalam jangka pendek, melainkan tercorengnya reputasi vendor asal Korea Selatan itu yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Ya, meski budget yang harus dikeluarkan Samsung untuk membayar keputusan recall 2,5 juta Note 7 ini diprediksi sampai menebus angka USD 1 miliar atau sekitar Rp 13,1 triliun. Namun Samsung seperti ‘tak terlalu mempersoalkan’ harga mahal yang harus dibayar.

“Saya tidak bisa berkomentar tentang berapa persisnya biayanya, namun memang besar angkanya,” sebut Koh Dong jin, bos divisi smartphone Samsung.

Singkat kata, yang penting bagi Samsung saat ini adalah menunjukkan bahwa mereka benar-benar bertanggung jawab terhadap apa yang diciptakannya. Jika benar ada masalah teknis dalam produknya — Galaxy Note 7 — yang berpotensi menimbulkan ledakan, mereka siap memperbaiki dan menanganinya dengan sangat serius.

Meski sampai harus mengeluarkan dana super besar, kehilangan momentum dan sampai membuat pelanggan kecewa. Tapi apa boleh buat, keputusan tidak populer itu harus diambil justru dengan alasan ‘demi kepentingan pelanggan’.

“Kami tahu ketidaknyamanan yang mungkin terjadi namun hal ini dilakukan untuk memastikan Samsung terus menghantarkan produk kualitas tertinggi ke konsumen kami. Dan kami bekerja sama erat dengan mitra kami untuk memastikan proses pergantian itu senyaman dan seefisien mungkin,” jelas pernyataan resmi Samsung.

Samsung pun berjanji akan menggantikan semuanya dengan perangkat baru yang sudah terbebas dari masalah, sedangkan urusan penjualan akan dilanjutkan jika proses pergantian handset telah dilakukan.

Nah, kini tinggal pertanyaannya, kapan? Mau sampai kapan pelanggan harus menunggu Samsung kembali dari pertapaannya. Pelanggan tentu perlu bukti bukan janji, mereka pun masih sangat penasaran dengan kemampuan sesungguhnya Galaxy Note 7 di medan laga.
(ash/ash)

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply