Satelit Telkom 3S Dilindungi Jasindo

Kourou – Satelit Telkom 3S senilai USD 215 juta yang sukses diluncurkan di Kourou, Guyana Prancis, Amerika Selatan, telah diasuransikan oleh Telkom melalui PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).

Menurut Vice President Corporate Communication Telkom Arif Prabowo usai peluncuran, satelit pengganti ini diproteksi oleh Jasindo layaknya satelit Telkom sebelumnya yang sempat hilang sebelum memasuki orbit.

“Kami kembali mempercayakan Jasindo untuk urusan perlindungan Telkom 3S. Jaminannya diberikan mulai dari peluncuran hingga satelit menempati slot orbit di 118 derajat bujur timur,” ungkap VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo kepada detikINET kala transit di Paris dalam perjalanan menuju Korou, Minggu (12/2).

Asuransi dinilai olehnya merupakan salah satu hal yang penting dalam peluncuran satelit karena resiko yang tinggi di setiap prosesnya. Namun sayangnya, Arif yang akrab disapa Bobby ini tak mengungkap detail polis asuransinya.

“Kami tak bisa ungkap nilai polisnya, tetapi hampir mirip polanya saat kerjasama dengan Jasindo untuk satelit Telkom 3 yang hilang beberapa tahun lalu,” jelasnya.

Seperti diketahui, satelit Telkom 3S menggantikan satelit Telkom 3 yang gagal mencapai orbit pada Agustus 2012 lalu. Saat itu, satelit Telkom 3 diluncurkan oleh ISS-Reshetnev dengan perangkat komunikasi dibuat oleh Thales Aleniaspace.

Investasi yang dikeluarkan untuk membangun satelit Telkom 3 itu sekitar USD 185 juta. Lebih kecil angkanya ketimbang uang yang digelontorkan untuk satelit penggantinya. Angka S yang ada di satelit Telkom 3S sendiri merupakan singkatan dari kata ‘substitute’ alias pengganti.

Waktu satelit Telkom 3 hilang gagal mengorbit, Telkom tidak mengalami kerugian secara keuangan karena asuransinya ditanggung Jasindo senilai USD 185,319 juta, atau setara dengan Rp 1,7 triliun dengan valuasi kurs pada 20 November 2012.

Untuk menuntaskan pembayaran klaim tersebut, Jasindo dibantu oleh 37 underwriter dan lima perusahaan yang ada di Indonesia. Harga pertanggungannya sebesar USD 185,319 juta yang terdiri dari harga satelit, biaya peluncuran satelit, serta biaya asuransi.

Sementara satelit Telkom 3S sendiri sudah memasuki fase pertama masa krusial. Kali ini, Telkom 3S menggunakan Arianespace untuk misi peluncuran menggunakan roket Ariane 5 Flight VA235.

Perusahaan roket peluncur yang sama-sama berasal dari Prancis seperti pembuat bodi satelitnya ini berhasil mencatat 77 kesuksesan dalam menuntaskan misi peluncuran satelit terhitung saat dual-launch Telkom 3S dan Sky Brasil-1 milik AT&T.

Secara teori, peluncuran satelit terdiri dari beberapa tahapan dimana setiap stage memainkan peranan yang berbeda. Tahapan pertama, kendaraan peluncur berisi roket-roket dan bahan bakar yang diperlukan untuk mengangkat satelit dan kendaraan peluncur ke angkasa.

Roket-roket ini haruslah sangat kuat karena bobot dari kendaraan peluncur bisa mencapai ratusan ton. Setelah semua bahan bakar di tangki ini habis digunakan, stage satu tidak diperlukan lagi dan dibuang, dilepaskan jatuh ke bumi.

Stage kedua berisi roket-roket yang lebih kecil yang akan menyala setelah stage satu selesai. Roket-roket stage kedua memiliki tangki bahan bakarnya sendiri. Stage kedua ini digunakan untuk mengirim satelit ke luar angkasa. Seperti pada stage pertama, tangki dan roket dilepas dan dibuang ke atmosfer ketika bahan bakar sudah habis digunakan.

Berikutnya upper stage dari kendaraan peluncur dihubungkan ke tempat pembawa satelit, yang merupakan suatu wadah yang dilapisi metal, dan disebut fairing. Fairing berfungsi melindungi satelit saat proses peluncuran dan memudahkan kendaraan peluncur untuk menjelajah atmosphere Bumi.

Fairing akan membuka ketika satelit berada diatas lapisan atmosphere dan terbakar ketika memasuki atmosfer. Roket-roket pada upper stage ini menyala setelah satelit berada di luar angkasa dan akan membawa satelit menuju titik orbit yang dituju.

Satelit kemudian ditempat ke suatu transfer orbit yang akan mengirimkan satelit ke orbit yang lebih tinggi. Setiap satelit berada di titik terjauh (apogee) maka roket utama yang terpasang di satelit dinyalakan. Begitu seterusnya sampai satelit mencapai ketinggian orbit yang diinginkan.

Selanjutnya panel surya mulai dibuka dan dikembangkan agar satelit mulai mendapat catuan listrik dari sinar matahari, kemudian diikuti dengan dibukanya antena komunikasi.

Empat tahun yang lalu, Telkom 3 bernasib sial setelah memasuki tahapan kedua. Semoga satelit Telkom 3S yang membawa 42 transponder ini terus berjalan lancar hingga resmi bisa dites secara komersial pada pertengahan April nanti. (rou/asj)

About The Author

Profile photo of Detik

Detik.com adalah portal berita online terbesar di indonesia yang menyediakan beragam macam berita dari politik, IT sampai kesehatan.

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply

Skip to toolbar