Satelit Tiangong-1 Milik China Jatuh ke Indonesia 3 April

Jakarta – Stasiun antariksa milik China, Tiangong-1, dilaporkan akan jatuh ke Bumi. Sebuah situs bernama Satview mengklaim dapat melacak Tiangong-1 secara langsung. Mereka juga memprediksi kapan dan lokasi jatuhnya, yang diklaim termasuk di Indonesia.

Tertera di situsnya, Satview mengatakan bahwa Tiangong-1 akan mengalami re-enter atau masuk kembali ke atmosfer dalam 11 hari lagi. Artinya, pada Selasa, 3 April pukul 09.11 Universal Time (UTC)

“Peta di atas menunjukkan lokasi kemungkinan masuknya sampah luar angkasa Tiangong-1 (37820U) yang diprediksi oleh pemodelan evolusi orbital sampai fragmen atau satelit mencapai ketinggian semburan nominal,” sebut Satview seperti yang dikutip detikINET, Jumat (23/3/2018).

Di mana Tiangong-1 akan mendarat?

Para ahli yang melacakan stasiun luar angkasa tersebut, seperti dilansir dari Daily Mail, menyebutkan bahwa Tiangong-1 memiliki peluang tertinggi untuk jatuh di kota-kota di sekitar garis lintang 43 derajat dan selatan, yaitu New York, Barcelona, Beijing, Chicago, Istanbul, dan Toronto.

Bahkan, Satview memprediksi kalau wahana antariksa yang punya bobot 8,5 juta ton itu akan mengalami re-enter pada 07.37 GMT pada 3 April di Selandia Baru.

Tiangong-1 Hantam Bumi Pada 3 April, Di Mana Lokasinya?Perkiraan jatuhnya Tiangong-1 pada Selasa, 3 April 2018. Foto: Daily Mail

Kota-kota di atas termasuk wilayah Indonesia, di mana sebelumnya Tiangong-1 ini berpeluang untuk berlabuh di Indonesia sebagaimana disebutkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

LAPAN mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir terkait kemungkinan stasiun luar angkasa China Tiangong-1 jatuh di Indonesia.

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa saat Tiangong-1 masuk kembali ke atmosfer Bumi, stasiun antariksa tersebut akan pecah yang di mana sebagian besarnya akan terbakar. Dikatakannya, pecahannya akan tersebar atau ratusan kilometer sepanjang jalur orbit.

Potensi bahaya tumbukan jatuh di wilayah berpenghuni, sangatlah kecil, kata Thomas, karena wilayah Bumi sebagian besar tidak berpenghuni, yaitu terdiri dari lautan, hutan, dan gurun.

“Jadi, masyarakat tidak perlu cemas, namun tetap waspada. Kewaspadaan perlu ketika pada hari H kejatuhan objek antariksa tersebut ada warga melihat benda jatuh dari langit agar jangan menyentuhnya,” ujar Thomas dikutip detikINET dari blog pribadinya.

(agt/rou)


About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply