Seperti Manusia, Paus Ternyata Bisa Menopause

Kamis, 26 Mei 2016 | 08:20 WIB


Seperti Manusia, Paus Ternyata Bisa Menopause

Paus Orca saat akan menukik ke bawah permukaan air laut untuk menangkap lumba-lumba. Fotografer Christopher Swann berhasil mengabadikan kegiatan perburuan ini dari atas kapalnya. Dailymail.co.uk

TEMPO.CO, New York –┬áMenopause adalah fenomena langka di dunia hewan. Namun bukan berarti tidak ada hewan yang mengalaminya. Seperti halnya manusia, paus pembunuh betina kehilangan kemampuan bereproduksi pada akhir masa hidup alaminya.

Pertanyaannya, apa keuntungan bagi paus pembunuh yang mengalami menopause seperti manusia? Para ilmuwan berspekulasi, bagi manusia, menopause (berhenti menstruasi) dikembangkan untuk mengurangi persaingan antargenerasi di antara perempuan dalam satu keluarga.

Versi lain mengatakan individu yang sudah tua akan sulit berfokus pada kehamilan, sehingga lebih baik mengurus anak atau cucu saja. Perkiraan serupa tampaknya juga berlaku bagi paus pembunuh (Orcinus orca). Berhentinya masa subur mamalia laut tersebut mungkin supaya induk yang sudah tua dapat merawat anak-anaknya secara total hingga dewasa ketimbang hamil lagi.

“Analisis kami menunjukkan paus pembunuh jantan sangat bergantung pada induknya. Mereka harus berjuang cukup keras untuk bertahan hidup tanpa bantuan induknya,” ucap Dan Franks, peneliti dari University of York, Inggris.

Peran penting induk dalam merawat anaknya hingga dewasa menjelaskan alasan paus pembunuh mengembangkan kondisi pascareproduksi terpanjang di kerajaan hewan. Individu betina paus pembunuh biasanya berhenti bereproduksi pada usia 40 tahun. Padahal mereka dapat hidup hingga usia 90 tahun.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Science, Franks mengatakan keberadaan induk yang mengalami menopause justru meningkatkan kemampuan individu jantan bertahan hidup. “Tapi kami tidak menemukan efek yang sama pada individu betina,” ujarnya.

Peneliti juga menemukan kematian induk berdampak besar pada paus pembunuh jantan. Induk yang mati pada waktu tertentu akan memicu potensi kematian hingga 14 kali lipat pada individu jantan yang berumur lebih dari 30 tahun. Adapun pada paus pembunuh betina, kematian induk hanya meningkatkan risiko kematian di bawah tiga kali lipat.

“Anak betina di bawah 30 tahun justru tidak terpengaruh oleh kematian induk mereka,” tutur Franks. Ia berspekulasi, induk paus pembunuh lebih berfokus pada kelangsungan hidup anak jantan untuk memastikan terjadinya pertumbuhan yang maksimal, sehingga pada saatnya nanti anak paus tersebut akan menyebarkan gen yang diwariskannya.

Tapi mengapa induk paus tidak melakukan hal yang sama untuk anak betina? Dalam komunitas paus pembunuh, kata Franks, anak jantan dan betina tinggal bersama induknya dalam satu kelompok sepanjang hidupnya.

Sewaktu anak jantan kawin, anak-anaknya kelak dirawat individu betina dari kelompok lain. Sementara itu, keturunan anak betina paus pembunuh akan bergabung kembali dengan kelompok induk, sehingga menguras sumber daya keluarga.

“Paus pembunuh adalah hewan yang luar biasa. Kelompok sosial mereka benar-benar tidak biasa. Induk dan anak-anak jantannya adalah teman seumur hidup,” ucap Emma Foster, peneliti dari University of Exeter.

Penelitian Foster menunjukkan paus pembunuh telah mengembangkan menopause terlama dibanding pada spesies nonmanusia lain, sehingga dapat menawarkan kepastian bertahan hidup untuk keturunan yang lebih tua.

SCIENCE | AMRI MAHBUB

About The Author

Profile photo of Tempo

www.tempo.co adalah portal berita online dan offline yang terkenal dengan beritanya yang 'berani' dan menyediakan beragam macam berita dari politik, IT sampai kesehatan dengan investigasi yang terkenal 'tajam'.

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply

Skip to toolbar