Sianida di Kopi Mirna: Racun Ajaib Tak Berbau, Tak Berwarna | Tempo Teknologi

Senin, 11 Januari 2016 | 19:30 WIB


Sianida di Kopi Mirna: Racun Ajaib Tak Berbau, Tak Berwarna

Wayan Mirna Salihin. Facebook.com

TEMPO.CO, Jakarta – Wayan Mirna Salihin, pengusaha muda berumur 27 tahun, diduga tewas keracunan sianida pada Rabu pekan lalu. Kematiannya membuat banyak orang bertanya mengenai  racun tersebut.

Menurut Tjandra Yoga Aditama, mantan Kepala Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, sebetulnya racun sianida dapat ditemukan dalam banyak tempat. Misalnya, beberapa produk rumah tangga. “Tentunya, itu dalam dosis rendah,” kata dia, melalui pesan singkat kepada Tempo, Senin, 11 Januari 2016.

SIMAK: Kasus Kopi Mirna: Ini Ngerinya Sianida Jika Masuk ke Tubuh

Mengutip laporan Badan Kesehatan PBB (WHO) 2004 berjudul “Concise International Chemical Assessment Document 61 HYDROGEN CYANIDE AND CYANIDES: HUMAN HEALTH ASPECTS”, Tjandra Yoga menyebutkan sumber sianida lainnya. “Asap rokok juga mengandung sianida dosis rendah,” ujarnya. Yang lainnya, kata dia, adalah asap kendaraan bermotor, bahan industri, dan pertambangan.

Racun sianida, Tjandra menjelaskan, biasanya berbentuk cair. Yang membuatnya sulit dikenali karena zat ini tak berbau dan tak berwarna. Terkadang juga berubah menjadi warna biru saat bercampur dengan suhu ruangan tertentu. “Tapi yang jelas racun ini sangat mudah bercampur dengan air,” tutur dia.

Bentuk lain sianida adalah sodium sianida dan potassium sianida. Keduanya berbentuk serbuk dan berwarna putih, atau mirip dengan serbuk detergen.

SIMAK: Kasus Kopi Mirna, Polisi: Korban Tak Punya Penyakit Tertentu

Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan dan sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu. Bisa membunuh manusia hanya dalam hitungan menit.

Setelah terpapar, Tjandra menjelaskan, sianida langsung masuk ke dalam pembuluh darah manusia. Racun ini masuk melalui jaringan pembuluh darah dan langsung masuk ke jantung. Mula-mula, kata dia, dua sistem itu yang terganggu. Setelahnya tekanan darah dalam otak langsung melonjak yang mengganggu sistem susunan saraf pusat.

Pada masa kronis, organ-organ  endokrin (organ yang menghasilkan hormon) tak bisa lagi bekerja. Itu semua terjadi karena sianida mengikat bagian aktif enzim sitokrom oksidase, atau enzim yang membentuk air (H2O) dalam tubuh. Setelah menyerang semuanya, kandungan sianida akan mengendap di liver manusia.

Menurut Tjandra, jika kandungan sianida yang masuk ke dalam tubuh masih kecil, zat ini akan diubah menjadi tiosianat yang dapat dieksresi tubuh manusia. Sebaliknya, sianida dalam jumlah besar dapat membunuh manusia seperti kasus kopi Mirna.

AMRI MAHBUB

About The Author

Profile photo of Tempo

www.tempo.co adalah portal berita online dan offline yang terkenal dengan beritanya yang 'berani' dan menyediakan beragam macam berita dari politik, IT sampai kesehatan dengan investigasi yang terkenal 'tajam'.

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply

Skip to toolbar