We The Fest Dihadiri Jokowi, Milenial Jadi Bidikan Vivo

Jakarta – Kaum milenial jadi aset penting bagi Vivo. Pasalnya, 50% penjualan smartphone mereka dihasilkan dari kalangan generasi muda itu.

Dari angka penjualan 50% tadi, Vivo V5S menjadi ponsel paling favorit di kalangan milenial. Ponsel dengan tagline camera & musik ini memang ditujukan kepada anak-anak muda yang suka selfie dan eksis di sosial media. Harga yang ditawarkan memang masih terjangkau untuk kantong anak milenial sebesar Rp 3.500.000.

Meski sudah meraih persentase besar, kaum milenial tetap menjadi target utama Vivo untuk terus menggenjot brand awareness mereka, salah satunya dengan menjadi sponsor utama dalam acara musik We The Fest 2017 yang ikut dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

We The Fest 2017 Dihadiri Jokowi, Milenial Jadi Bidikan VivoPresiden Jokowi di acara We The Fest 2017 (detikcom/Dyah Paramita)

“Saat ini kami masih fokus terhadap brand awareness. Bagi kami, produk smartphone Vivo mencakup perkembangan teknologi, lifestyle orang yang sudah berubah lebih dinamis. Kami sangat menargetkan kaum milenial. Target utama kami adalah milenial worker,” ujar Edy Kusuma Brand Manajer Vivo Mobile Indonesia di JIExpo Kemayoran.

Edy Kusuma Brand Manajer Vivo Mobile IndonesiaEdy Kusuma, Brand Manajer Vivo Mobile Indonesia (detikINET/Josina)

Selain menargetkan pasar kaum milenial, di tahun ini Vivo juga berambisi untuk menjadi ponsel terfavorit dan masuk tiga besar di Indonesia. Saat ini, kata Edy, Vivo baru ada di posisi lima besar.

“Target kami tahun ini masuk peringkat tiga besar. Untuk saat ini, pengenalan brand kepada konsumen menjadi hal utama ketimbang jualan,” tambah Edy.

Pengenalan brand yang dilakukan Vivo pun menempuh dua jalur, yakni televisi dan digital. Diakui Edy, digital merupakan cara paling efesien dalam jangka waktu lama.

Edy juga menambahkan brand Vivo sudah menyebar luas, jalur distribusi Vivo pun didominasi wilayah pulau Jawa yang meraih 60% sisanya dari Kalimantan, Sumatera sampai Papua.

Ia menjelaskan bahwa karakter orang Indonesia membeli ponsel lebih suka secara offline. Di jalur online, klaim dia, kebanyakan masih sekadar untuk membaca review barangnya saja.

“Kalau offline mereka bisa memegang dan melihat langsung, tapi di online paling hanya untuk baca-baca review ponsel tersebut,” pungkasnya. (jsn/rou)

About The Author

Related posts

Click on a tab to select how you'd like to leave your comment

Leave a Reply